my 24-7 notez

Kamis, 23 Mei 2013

GELOMBANG-GELOMBANG BESAR PERUBAHAN NUSANTARA



Tulisan ini berdasarkan ceramah dan kuliah Prof.Joko Suryo. Keseluruhan content merupakan analisis Prof.Joko Suryo mengenai dinamika historis bangsa Indonesia.
KULIAH         : Prof.JOKO SURYO
MATKUL        : IPS Terpadu

1.     Faktor-faktor Dinamika Integratif Disintegratif Masyarakat dan Bangsa Indonesia dalam Perjalanan Sejarah.
^Semenjak wilayah kepulauan Nusantara yang terletak di kawasan Asia Tenggara terbentuk dan dihuni oleh penduduk yang berbahasa Melayu-Austronesia, sejarah masyarakat dan kebudayaan kepulauan Nusantara dimulai, atau terbentuknya wilayah kepulauan di Asia Tenggara diperkirakan terjadi pada periode interasial 1 – 5 juta tahun yang lalu. Sementara migrasi penghunian kepulauana oleh penduduk berbahasa Melayu-Austronesia diperkirakan 4 – 5 ribu tahun yang lalu.
^ Sepanjang perjalanan sejarah selama 2 millenium yang lalu, penghuni wilayah kepulauan pada masa awal dikenal sebagai “Nusantara” mengalami gelombang perubahan-perubahan besar antara lain:
a.    GELOMBANG I: pembentukan komunitas dan masyarakat suku-suku (Tribal community) dan masyarakat desa (Village community and society). Masyarakat plural Nusantara Awal bercorak Bhinneka Tunggal Ika, sebagai hasil proses interaksi geo – eko – kultural pada masa peradaban Nusantara pra-aksara.
b.    GELOMBANG II: pembentukan komunitas dan masyarakat Kerajaan Nusantara, seperti Kerajaan Hindu – Buddha (Sriwijaya – Majapahit) dan Kerajaan Islam (Samudera Pasai, Malaka, Demak, Cirebon, Banten, Palembang, Banjarmasin, Makassar, Ternate-Tidore, Mataram, dsb). Masyarakat plural Nusantara bercorak Bhinneka Tunggal Ika sebagai hasil interaksi geo – eko -  historis – kultural yang melahirkan peradaban Nusantara Baru.
c.    GELOMBANG III: pembentukan Komunitas dan Masyarakat Kolonial. Periode terbentuknya wilayah Negara Hindia-Belanda (Nederlandsch-Indie), pada masa kepulauan Nusantara disatukan di bawah bendera Pax Neerlandica. Ciri à subordinasi, diskriminasi, sagragasi, dan eksploitasi mendasari pluralitas atau kemajemukan masyarakat pada jamannya. Masyarakat plural  Nederlandsch-Indie, sebagai hasil proses interaksi historis masyarakat Nusantara dengan masyarakat Barat pada era “globalisasi” awal atau “imperialisme dan kolonialisme” Barat, abad ke-19 s/d medio abad ke-20.
d.    GELOMBANG IV: pembentukan komunitas dan “Masyarakat Bangsa” dan “Negara Bangsa” terwujud sebagai hasil proses interaksi dinamis – historis masyarakat tanah jajahan melalui proses dekolonialisasi dan Indonesianisasi lahirnya masyarakat plural Indonesia bercorak Bhinneka Tunggal Ika Baru yang dibangun melalui proses integrasi, akulturasi, asimilasi, interaksi, toleransi, dan demokratisasi sejak awal abad ke-20 sampai akhir abad ke-20.
e.    GELOMBANG V: perjalanan masyarakat bangsa Indonesia menuju ke millennium ke-3. Kehidupan masyarakat bangsa Indonesia di Arena kehidupan Global. Masa krisis multidimensi dan masa dipersimpangan jalan: antara menuju jalan kea rah kebangkitan bangsa Indonesia Baru dan menuju kea rah kehancuran bangsa. Lahirnya masyarakat Indonesia Baru yang lebih mengedepankan kesadaran akan kebaruan nilai-nlai kehidupan masyarakat bangsa yang demokratis (civil society), berkebudayaan dan berperadaban multukultural yang mampu berkelangsungan hidup (sustainability) dalam dunia yang mengglobal.
 ^Akhir dari perjalanan pada awal millennium ke-3 Indonesia mengalami multikrisis dan kini tengah berjuang untuk mengatasinya.

2.     Masyarakat Indonesia kini tengah menghadapi tantangan krisi multidimensi sebagai dampak era globalisasi. Pada hakekatnya masyarakat dunia dan mayarakat Indonesia tengah mengalami dampak krisis multidimensi sebagai dampak dari berbagai era, antara lain:
a.    Pasca Perang Dingin (Post Cold War).
b.    Pasca Industri (Post Industrial Age).
c.    Mikroelektronik / Telekomunikasi (Microelectronical / Telecommunication Age).
d.    Produksi dan Konsumsi Massal (Mass Production and Mass Consumption).
e.    Globalization Era.
f.      Disntinuitas (Discontinuity) à gap / disfalitas / ketimpangan / ketidakmerataan kesempatan.
g.    Krisis (Crisis).
3.     Kini masyarakat Indonesia tengah mengalami perubahan structural dan cultural yang mendasar. Perubahan-perubahan tersebut meningkat terutama semenjak akhir abad ke-20 dan awal abad ke-21, antara lain:
a.    Pergeseran dari masyarakat tradisional ke masyarakat modern dan pasca modern.
b.    Pergeseran dari masyarakat pedesaan dan masyarakat perkotaan menuju pembentukan masyarakat desa dan kota baru.
c.    Pergeseran dari masyarakat agraris ke masyarakat industrial dan pasca industrial.
4.     Tantangan krisis multidimensi yang dihadapi masyarakat Indonesia pada masa kini; diperlukan kemampuan survival dan ketahanan mental / moral dan spiritual tinggi, untuk menghadapi krisis ekonomi, krisis kepercayaan, dan krisis kepemimpinan.
5.     Menuju kea rah masyarakat Indonesia modern yang berperadaban tinggi, perlu dikembangkan startegi pendidikan di sekolah dan masyarakat, dengan menekankan beberapa segi penting, sebagai berikut:
a.    Hakekat dan makna sejarah masyarakat dan bangsa Indonesia perlu diperkuat dan dimantapkan demi proses pemeblajaran sejarah di segala tingkat dan jenjang sekolah.
b.    Hakekat dan makna nilai-nilai kearifan budaya local dan budaya bangsa perlu dikembangkan dan dimantapkan dalam proses belajar mengajar di segala tingkat dan jenjang sekolah, bersama-sama dengan pengenalan hakekat dan makna nilai-nilai budaya modern dan global.
c.    Peneguhan semangat dan moralitas kemanusiaan dan ke-Indonesiaan yang beradab perlu sejak dini ditanamkan dalam dunia pendidikan, kemasyarakatan dan kehidupan politik.

Jumat, 17 Mei 2013

Mei oh Mei...

Umur ane dah nambah jadi 29 taon..tapi ane masih berasa muda tuh, wkwkwkwkw. Coz jaman masih SMK n kuliah S1 dulu, q ma temen-temen cewek beranggapan kalo usia 28, 29, 30 itu dah tua, jadi kalo chat njok dapat kenalan cowok direntang usia itu langsung qt BUZZ coz menurut qt dah tua, hehehehe. 
Bulan ini memang menjadi bulan yang lumayan sibuk buat gw. Tapi pertengahan bulan ini gw malah tepar gara-gara flu. Yah, minum obat lagi dah, plus rencana diet yang tadinya ane gembor-gemborin, well, kaya yang sudah-sudah, gagal maning_gagal maning..><
Yang jelas ane musti rajin belajar by now, dengan waktu yang mepet gini, cos besok tanggal 30 Mei ane bakal mengikuti UKG (Ujian Kompetensi Guru) bagi guru yang belum sertifikasi, diadain test awal untuk mengetahui gimana kompetensi yang dimilikinya. Tesnya 30% kompetensi pedagogik en 70% kompetensi profesional.. Yang paling nakutin is that...kalo ngga lulus UKG musti didiklat (ikut pelatihan) di Semarang, katanya sih kalo ga salah ingat 1 minggu pa 1 bulan gitu...ya Allah hamba mohon hamba lulus.
Bener-bener dah ane musti belajar, coz diantara temen-temen yang laen (baik yang seangkatan diterima CPNS n ditempatkan di SMK N2 Wonosari maupun yang sama-sama guru PKn seangkatan gw yang tersebar di seantero GK) gw nyadar kemampuan gw termasuk yang low alias dibawah mereka (hikz..).
Well, ni beberapa aktivitas ane bulan Mei ini...
Mas Bambang ma Bu Umu, dua-duanya pengurus Koperasi IKA di SMK Negeri 2 Wonosari. Bu Umu sedang mendata stok baju yang dijual dimari...
Di ruang TU ketemu ma Bu Gari. Katanya paling gemes kalo ngeliatin pipi q yang chubby...padal pipinya juga ga kalah ngegemesin..
Tapi emang iya nih, kalo ketemu ma Bu Erlin guru jurusan bangunan, ditoel deh ni pipi..
Ni anak-anak gue di club Karya Ilmiah Remaja (KIR), nah kalo ane ini embokna, bu Sri Purwanti Rudjito guru IPS adalah mbah uti_nya.. Nah bu Pur ini kan dah pensiun per tanggal 1 Mei 2013 ini, jadi ane kelabakan nih, coz beliau ni kan pendiri plus koordinator KIR ini. Ni pada dispen pas hari Sabtu, soalna senen 6 Mei proposal Klinik Sains musti dikumpul di Dikpora DIY.
Ekskul KIR memang kurang diminati, jadi anggotanya ga begitu banyak, tapi ini cuma sebagian aja..Lumayan lah kalo dikumpulin semua yang dari kelas X dan kelas XI ada skitar 20 sampai 30 anak (kaya'na.. coz yang kelas X q belum pernah intens kasi bimbingan)..
Dibeliin lotis ma ibuk di abang jualan rujak yang keliling di depan gang rumah. Coz ane ga begitu suka rujak, kalo lotis, tiap kali ada ane mau deh.. pokokna qt penggemar makanan pedes deh.
Mbak Umu ngeLIKE bakso PEDAZZZ di jalan Wonosari, deket ma perempatan Wiyoro. Buruan mbak, hak...nyammm...Bhuuuuuzzzz pedez, kaya ditimpuk sandal jepit pedhweznya...mantaft!
Hehe, biasa ditraktir ma nyang di atas ntu noh... Mbakayune sungguh sangat terlalu baek ma adex_na ini..

Yang ini pas hari Minggu, menghadiri ijab Qobul sodara di Boyolali. Hebat loh mantenya masih muda banget, baru 21 tahun.. Nikah itu menggenapkan separuh dien jadi keputusan untuk menikah muda, adalah langkah yang berani. Semoga menjadi keluarga yang sakinah, mawadah, warohmah ya adek2..amiiinnnnn
Hari senin, bener-bener maraton deh. Habis nyelesein urusan di skul dari jam 7 sampe jam 12 njok pulang, cuma mandi n ganti baju terus kuliah. Secara jam ke_1 ane ada presentasi individu untuk matkul Teori-teori Sosial, n ke_2 ane ada presentasi kelompok matkul Perilaku Kehidupan Sosial. Jam ke_3 dah lemezzz... Btw, pak Aslan, ngantuk ya?
Ni ane diampit ma ibu-ibu cantik. Yang jilbab orens is bu jenk Indah n yang jilbab ungu is mbak jenk Suryanti. Heheh ane yang paling item, paling tembem, paling ndut, kalah deh ma ibu-ibu ini...
Pas ngantri di poli umum RSI Hidayatullah, selasa sore. Terpaksa deh selasa itu ane ga berangkat kuliah, habis bener-bener gaenak body jeH.

Jumat, 26 April 2013

GRAFOLOGI (Membaca Kepribadian Orang Lewat Tulisan Tangannya)

Well, hi y'all, it'z time to posting lagi.. Berhubung sedang ga ada ide tentang IPS (Ilmu Pengetahuan Sosial) jadi kali ini ane bakal share IPS yang laen (Ilmu Pengetahuan Suka-suka). Kali ini ane bakal sedikit ngebahas tentang GRAFOLOGI, ow, apa itu? ya tar ane jelasin dah.. 
Cing_cong dulu ya buat intro_na. Sewaktu masih kuliah dulu pas semester 7 ane punya dua orang temen dari jurusan BK, nah mereka nih pernah pamer tentang membaca karakter lewat gambar pohon (yang seperti ini sebenarnya salah satu bentuk psikotes untuk rekrutmen karyawan di perusahaan-perusahaan), nah berhubung gue orang yang gasuka n gaterima dipamer-pamerin, so ane maksa-maksa mereka ngajarin gimana caranya, ane butuh beberapa hari buat maksa mereka, sampe akirnya gue dikasi liat diktat mata kuliah yang ngebahas soal itu. Itu pun gue cuma dikasi waktu skitar 10an menit untuk 'ngintip' isinya...pelit banget, tapi lumayan lah, mereka ga tau ane bisa baca cepat n ahli maksa. Habis baca kilat, ane minta (baca: maksa) diajarin praktek sebentar. Ho-hoh0, en dari situ sekarang ane dapet manfaatnya, terutama untuk iseng-iseng baca karakter orang (meski masih serampangan n superduper amatir, tapi lumayan lah, hasil dari 'mencuri' ilmu ini). Nah, gue ini termasuk orang yang punya kecenderungan minat untuk bisa membaca seseorang (tentu dengan cara-cara yang nonklenik lah yepp, tapi dengan cara yang scientific, wuih, gaya bener..). Tapi lebih daripada itu, kalo ane beneran bisa tentu ane gunakan untuk mendukung pekerjaan ane sebagai guru, supaya ane bisa mengerti murid ane n memiliki rasa empati, itu aja (kadang juga untuk iseng..hehe).
Woke, enough 4 the cing_conk. Lanjut...here u are little bit tentang GRAFOLOGI.. 

GRAFOLOGI (Membaca Kepribadian Orang Lewat Tulsan Tangannya) 
Banyak yang dapat dilakukan orang untuk dapat menilai karakter seseorang, ada yang melalui wajah, gerakan atau bahasa tubuh, bahkan melalui tulisan tangan. Membaca karakter seseorang melalui tulisan tangan dapat dipelajari lewat suatu ilmu yang disebut "Grafologi"
Grafologi adalah cabang dari ilmu psikologi dalam mata kuliah psikografik atau psikodiagnostik. Ilmu ini sangat bermanfaat untuk menginterpretasikan karakter seseorang melalui analisis dan pengamatan tulisan tangannya. 
Grafologi sebagai seni dan ilmu yang mempelajari tentang tulisan tangan. Karena tulisan tangan berasal dari otak manusia, maka apa yang dituangkan dalam tulisan itu adalah buah pikirannya. Buah pikiran manusia ini dapat memberi gambaran atau mencerminkan kepribadian manusia.
Meski kegiatan menulis tampak sebagai kegiatan yang dikendalikan oleh pikiran sadar manusia, tetapi kegiatan menulis ini ternyata sangat dipengaruhi oleh pikiran bawah sadar manusia. Oleh karenanya, bentuk, gaya tulisan, dan karakter-karakter dalam diri setiap orang tidaklah sama.
Tulisan tangan dapat memberi gambaran seseorang terhadap sensibilitas penulisnya, karena tulisan tangan mempunyai bentuk dan gaya yang tidak sama antar individu, maka tulisan tangan juga dapat menunjukkan ciri khas kepribadian seseorang (trademark) yang tidak dapat ditiru orang lain secara persis.
Grafologi adalah seni manilai karakter dan kepribadian seseorang dengan cara melihat tipe tulisan tangan dan tanda tangan. Meskipun sebagai ukuran, ia dapat memberi petunjuk kehidupan seseorang mengenai perniagaa, kehidupan, keluarga, dan hubungan, kesetiaan, kejujuran dan semangat, serta apa saja. Ia adalah sesuatu yang scientific. Tulisan tangan juga dikenali sebagai tulisan otak (brain writing). Otak memberi arahan pada tindakan menulis. Jika seseorang tidak punya tangan, sehingga tidak dapat menulis, orang tersebut dapat menggunakan cara lain untuk menulis, misalnya dengan gigi atau jari kaki. Hakikatnya, otak yang membantu kita menulis, tangan sebagai medium untuk melakukannya.
Tanda tangan juga merupakan unsur penting dalam grafologi. Tanda tangan melambangkan nilai dan kepribadian seseorang. Kebanyakan ahli dan pakar grafologi menilai kedua-duanya, baik tulisan maupun tanda tangan untuk mendapatkan gambaran atau membuat ramalan mengenai diri dan kehidupan seseorang.
Secara sederhana, grafologi berguna untuk menebak kepribadian seseorang. Informasi tentang kepribadian seseorang tersebut tentunya dapat dimanfaatkan untuk berbagai kepentingan. Dalam proses rekrutmen pegawai misalnya, grafologi dapat dijadikan sebagai salah satu perangkat seleksi. 
Di dunia pendidikan, grafologi bisa digunakan untuk mendeteksi problem yang sedang dialami peserta didik ataupun dalam mengukur kecerdasan si anak. 
Bahkan, di ranah praktik terapi psikis, grafologi dapat pula dijadikan sebagai salah satu metode terapi/ rehabilitasi. Dalam konteks pergaulan sehari-hari, pengetahuan grafologi juga seru untuk dijadikan sebagai bahan pengenalan dan pemahaman antar sesama kawan, maupun sifatnya untuk iseng saja.
Namun demikian, kondisi si penulis pada waktu membuat tulisan tangan juga mempengaruhi penilaian dalam grafologi, misalnya bagaimana mood penulis pada waktu menuliskan tulisan tangannya, dsb.
Untuk lebih jelasnya n lebih detail mengenai grafologi sok atuh baca bukunya Dwi Sunar Prasetono mengenai GRAFOLOGI yang diterbitin Divapress.

Selasa, 23 April 2013

Contoh Kerangka Pikir dalam Pemilihan Metode Pembelajaran yang Sesuai




Pemilihan metode belajar yang sesuai maksudnya, dalam menentukan metode pembelajaran guru perlu melakukan penyesuaian dan mempertimbangkan faktor-faktor tertentu. Tujuannya agar metode pembelajaran yang digunakan tepat dan dapat mencapai tujuan yang diharapkan. Meskipun banyak faktor yang mempengaruhi, kegiatan memilih metode pembelajaran yang tepat jangan dipikirkan sebagai suatu pekerjaan yang berat dan rumit. Ini sudah menjadi bagian dari tugas guru sebagai seorang fasilitator pembelajaran. Agar memudahkan tugas guru dalam memilih metode pembelajaran yang hendak diaplikasikan, guru dapat mengembangkan kerangka pikir pemilihan metode menjadi ‘Applicable Learning Method’ (penulis menamainya dengan sebutan ALM).
Penerapan ALM ini tergantung pada setiap guru. ALM dapat diwujudkan dalam bentuk sketsa rencana maupun cukup dalam bentuk abstraksi di dalam pikiran guru saja. Cara mana pun yang dipilih tergantung pada keinginan guru sebagai learning designer-nya. Hakikatnya, semua guru yang membuat perencanaan pembelajaran telah mempraktekkan ALM ini dengan caranya masing-masing.
Kegiatan pemilihan metode pembelajaran tercakup dalam kegiatan perencanaan pembelajaran atau pembuatan learning design. Berikut ini adalah contoh tahapan kerangka pikir dalam pemilihan metode pembelajaran yang sesuai, yakni:
KERANGKA PIKIR 1:
Rectangular Callout: Ketiganya disebut faktor KONSTAN karena ketiga faktor tersebut sudah ada aturannya yang baku, atau dengan kata lain sudah ditentukan sebelumnya, baik dalam silabus maupun dalam program semester.Pemisahan antara faktor konstan, faktor relatif, dan faktor kondisi yang menyertai, yakni:






















 


















Sekali lagi, perlu ditegaskan bahwasanya dalam mempraktekkan ALM setiap guru memiliki cara dan pengalamannya masing-masing, sehingga penjabaran yang ada disini bukanlah harga mati bagi guru untuk membentuk kerangka pikirnya sendiri dalam pemilihan metode pembelajaran yang tepat.
KERANGKA PIKIR 2:
Interaksi antar faktor-faktor dalam pemilihan metode pembelajaran yang tepat. Dalam memilih metode pembelajaran, berdasarkan langkah pada kerangka pikir yang kedua dapat dilakukan dengan dua cara yang berbeda, berikut penjelasannya:
Rectangular Callout: METODE PEMBELAJARAN Pertama, guru telah menentukan metode apa yang akan dipakai. Metode tersebut diinteraksikan dengan berbagai faktor yang ada, sehingga menghasilkan suatu keputusan metode apa yang akan dipilih. Pada ilustrasi skema bisa dilihat alur berdasarkan tanda garis merah/ RED LINE (RL). Kedua, guru belum menentukan metode pembelajaran yang akan dipakai, tetapi guru terlebih dahulu menginteraksikan berbagai faktor pertimbangan dalam pemilihan metode pembelajaran. Berdasarkan hasil interaksi tersebut guru memperoleh gagasan dan menentukan metode pembelajaran yang akan digunakan.


 






Penggunaan metode pembelajaran dalam sekali tatap muka tidak dibatasi pada penggunaan satu metode saja, guru dapat mengkombinasikan beberapa metode pembelajaran sekaligus, agar pembelajaran berjalan sesuai dengan harapan.
KERANGKA PIKIR 3:
Aplikasi. Pada bagian ini, guru mengintegrasikan kondisi riil faktor-faktor tersebut dalam skema pikiran pada rumus kerangka pikir 2, berikut contoh aplikasinya:
Pertama, berpedoman pada RL:


Rectangular Callout: Cooperative learning dengan metode RESITASI
 









Rectangular Callout: OUT COME. Metode yang dipakai: RESITASI dengan bekerja kelompok. Keputusan akan menghasilkan teknis pelaksanaan metode pembelajaran, antara lain à(1) terdapat 10 kelompok dengan anggota 4 atau 5 peserta didik setiap satu kelompok; (2) Kelompok bekerja mengumpulkan informasi baik dari sumber bacaan maupun sumber orang melalui wawancara; (3) pembatasan waktu pengumpulan informasi; (4) penyajian hasil resitasi dalam bentuk laporan ditulis tangan; (4) diskusi kelas terhadap kesimpulan hasil resitasi berkenaan dengan pandangan masyarakat tentang politik figur di Indonesia.
 



















Rounded Rectangular Callout: (e)_K: mendeskripsikan pelaku ekonomi rumah tangga masyarakat, perusahaan, dan pemerintah + A: melatih keberanian berpendapat dan percaya diri + P: kegiatan yang memberdayakanIntinya adalah mengkompromikan antara ide penggunaan suatu metode yang akan dipilih dengan berbagai faktor. Bilamana dalam pengkompromian tersebut banyak kesesuaian, atau selalu ada solusi, maka ide dapat diaplikasikan. Namun demikian, tidak menutup kemungkinan ide penggunaan metode akan berubah bilamana tidak bisa dikompromikan dengan faktor-faktor yang ada.
Kedua, berpedoman pada BL:

Kegiatan pemilihan metode pembelajaran oleh guru, merupakan serangkaian kerja pikiran dengan mengintegrasikan, menginteraksikan, dan mengkompromikan metode pembelajaran dengan berbagai faktor-faktor tersebut. Kegiatan ini memang tidak secara tersurat tergambar seperti pada skema kerangka pikir di atas, akan tetapi skema diatas bertujuan untuk mendeskripsikan dan memvisualisasikan kerja pikiran dalam bentuk ilustrasi di atas. Memilih metode pembelajaran yang tepat termasuk dalam kerja perencanaan pembelajaran.
Perencanaan yang matang adalah perencanaan yang sistematis dan melakukan pertimbangan-pertimbangan yang relevan dan proporsional. Produk perencanaan berupa learning design akan menjadi tidak berati manakala guru tidak disiplin dengan perencanaan yang ia susun sendiri. Pelaksanaan pembelajaran yang sesuai dengan learning design akan memudahkan guru dan peserta didik mencapai tujuan pembelajaran yang diharapkan. Adanya kondisi-kondisi lapangan yang berbeda tidak bisa dijadikan suatu alasan bagi guru untuk tidak disiplin menjalankan learning design yang telah ia susun.
Kondisi force major memang jarang terjadi, tapi juga tidak menutup kemungkinan untuk terjadi. Memilih metode pembelajaran yang tepat jika dilakukan melalui pertimbangan-pertimbangan faktor-faktor tersebut, tentu akan meminimalisir kendala-kendala dalam pelaksanaan pembelajaran, termasuk jika terjadi force major. Alasannya karena, dengan memperhitungkan kondisi riil faktor-faktor tersebut, sama artinya guru telah mengenali secara mendalam, mengidentifikasi, memahami segala situasi dan  aspek-aspek pembelajaran, baik subjek pembelajaran maupun objeknya. Dengan demikian peranan guru sebagai fasilitator pembelajaran telah memberikan kontribusi penting dalam peningkatan kualitas pendidikan yang lebih baik, bagi konsepsi penyelenggaraan pendidikan sebagai bagian dari human investment.