my 24-7 notez

Jumat, 04 Januari 2013

ESSAY Teori Belajar yang Paling Sesuai untuk Pembelajaran IPS


Nama              : ZUKY IRIANI
NIM                : 12155140037
TUGAS ESSAY
“Teori Pembelajaran yang Paling Sesuai Diterapkan dalam Pembelajaran IPS”
Disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Teori Pembelajaran IPS, dengan dosen pengampu Dr. SALAMAH, M.Pd.
 =======================================================================
A.      Sekilas tentang Hubungan Antara Teori Belajar dengan Model Pembelajaran.
Secara ontologi, ilmu sosial meliputi banyak bidang sehingga memiliki jangkauan materi yang luas. Pada pokoknya terdapat cabang utama ilmu-ilmu sosial, antara lain:
1.         Antropologi, yang mempelajari tentang budaya masyarakat suatu etnis tertentu.
2.         Ekonomi, yang mempelajari produksi dan pembagian kekayaan dalam masyarakat.
3.         Geografi, yang mempelajari lokasi dan variasi keruangan atas fenomena fisik dan manusia di atas permukaan bumi.
4.         Hukum, yang mempelajari sistem aturan yang telah dilembagakan.
5.         Linguistik, yang mempelajari aspek kognitif dan sosial dari bahasa.
6.         Pendidikan, yang mempelajari masalah yang berkaitan dengan belajar, pembelajaran, serta pembentukan karakter dan moral.
7.         Politik, yang mempelajari pemerintahan sekelompok manusia (termasuk negara).
8.         Psikologi, yang mempelajari tingkah laku dan proses mental.
9.         Sejarah, yang mempelajari masa lalu yang berhubungan dengan umat manusia.
10.     Sosiologi, yang mempelajari masyarakat dan hubungan antar manusia didalamnya.
Ilmu sosial masih berupa ilmu murni, peleburan ilmu sosial menjadi Ilmu Pengetahuan Sosial pada dasarnya bertujuan untuk mempelajari ilmu sosial itu sendiri, namun diperuntukkan bagi dunia pendidikan. Meskipun demikian, peleburan istilah tersebut tidak menjadikan cakupan materi yang dipelajari dalam IPS menjadi sempit. Sama halnya dengan ilmu sosial, IPS pun memiliki jangkauan materi yang sama luasnya dengan ilmu sosial.
Melihat keluasan cakupan materi dalam pembelajaran IPS, maka tidak ada satu teori belajar pun yang paling ideal untuk segala situasi dan untuk semua bidang keilmuan yang tercakup dalam IPS. Teori pembelajaran adalah teori yang menawarkan panduan ekplisit bagaimana membantu orang belajar dan berkembang lebih baik. Jenis belajar dan pengembangan mencakup aspek kognitif, emosional, sosial, fisikal, dan spiritual. Aplikasi teori belajar dalam kegiatan pembelajaran  IPS tergantung dari beberapa hal seperti: tujuan pembelajaran, sifat materi pelajaran, karakteristik pelajar, media dan fasilitas pembelajaran yang tersedia.
Aplikasi teori belajar dalam kegiatan pembelajaran IPS pada prakteknya merupakan perpaduan dari beberapa aplikasi teori belajar. Pembelajaran yang baik adalah pembelajaran yang tidak hanya out come – oriented, tepai pembelajaran yang menekankan pada proses. Berpedoman pada pembelajaran yang menekankan proses sama artinya dengan memastikan agar proses berjalan secara maksimal, dengan mengoptimalkan peranan guru sebagai fasilitator dan mengoptimalkan kemampuan peserta didik. Penekanan pada proses justru akan memberikan hasil yang diharapkan. Hasil pembelajaran akan sesuai yang diharapkan, disamping tercapainya tujuan pembelajaran yang telah dirancang sebelumnya.
Teori belajar erat kaitannya dengan model pembelajaran. Aplikasi teori belajar dapat digunakan untuk merancang dan menentukan model pembelajaran yang sesuai dengan kondisi dan situasi belajar. Kondisi dan situasi belajar ini tentu memiliki indikator sebagai aspek-aspek utama pembelajaran, seperti jenis pembelajaran IPS yang hendak dipelajari, materi pembelajaran, tujuan pembelajaran, karakter kelas, dan lain sebagainya.
Model pembelajaran yang sesuai untuk diterapkan dalam pembelajaran IPS sebaiknya mampu mencakup lima unsur pembelajaran berikut ini:
1.      problem-centered, artinya pembelajaran dilaksanakan dalam rangka memecahkan permasalahan dunia nyata di sekitar pembelajar;
2.      activation, artinya pembelajaran dikembangkan relevan dengan pengalaman dan mengaktifkan pengetahuan mahasiswa yang telah dimiliki sebelumnya;
3.      demonstration, artinya pembelajaran yang dikembangkan untuk mempertunjukkan apa yang akan dipelajari bukannya melulu menceritakan informasi tentang apa yang akan dipelajari;
4.      application, artinya pembelajaran yang dikembangkan untuk menggunakan ketrampilan atau pengetahuan yang baru mereka untuk memecahkan permasalahan; dan
5.      integration, pembelajaran yang dikembangkan mengintegrasikan ketrampilan atau pengetahuan yang baru ke dalam kehidupan sehari-hari peserta didik.
Berdasarkan lima unsur cakupan pembelajaran yang sebaiknya ada dalam proses pembelajaran IPS, maka penggunaan model pembelajaran yang relevan dan inovatif perlu dipraktekan di kelas. Namun demikian, mengingat adanya batasan waktu dalam pembelajaran di kelas, proses pembelajaran perlu dirancang sedemikian rupa agar mampu memasukkan unsur-unsur tersebut. Bilamana kelima unsur tersebut tidak dapat diaplikasikan dalam satu kali tatap muka pembelajaran, guru bisa membuat perancangan pembelajaran yang memasukkan unsur-unsur tersebut secara parsial. Cara lain agar kelima unsur tersebut dapat menjadi bagian dari pengalaman belajar peserta didik adalah merancang pembelajaran sedemikian rupa agar pengalaman belajar yang diperoleh siswa saat pembelajaran di kelas dapat diaplikasikan atau memiliki andil positif dalam kehidupan siswa sehari-hari. Merencanakan, menyusun, dan mempraktekkan model pembelajaran di kelas tentu tidak lepas dari aplikasi teori belajar sebagai fondasinya.

B.       Tinjauan Sederhana Mengenai Teori Belajar Tententu dalam Aplikasi Pembelajaran IPS.
Pada dasarnya semua teori belajar sangat dibutuhkan dalam aplikasi pembelajaran IPS di sekolah. Hanya saja, proporsi aplikasi setiap teori tentu saja berbeda. Penulis memiliki pandangan bahwa dalam aplikasi pembelajaran IPS, sebaiknya penerapan teori belajar humanistik dijadikan sebagai landasan dalam setiap pelaksanaan pembelajaran. Pada bagian ini akan dibahas tersendiri. Pelaksanaan pembelajaran yang baik tidak boleh berpandangan sempit hanya dengan membatasi penggunaan satu teori belajar saja. Pada bagian ini akan dibahas mengenai penggunaan teori belajar yang relevan dengan aplikasi pembelajaran IPS di kelas.
Perlu digarisbawahi bahwa aplikasi teori humanistik memang menjadi landasan, sedangkan teori-teori yang lain sebagai penyerta. Namun demikian, meskipun disebut sebagai penyerta tidak berarti teori-teori selain humanistik diposisikan atau dianggap kurang penting kedudukannya dalam pembelajaran IPS yang diselenggarakan.
1.      Teori Behavioristik
Dalam pandangan teori ini, belajar merupakan akibat adanya interaksi antara stimulus dan respon. Seseorang dianggap telah belajar sesuatu jika dia dapat menunjukkan perubahan perilakunya. Faktor lain yang dianggap penting oleh aliran behavioristik adalah faktor penguatan (reinforcement). Kaum behavioris menjelaskan bahwa belajar sebagai suatu proses perubahan tingkah laku dimana reinforcement dan punishment menjadi stimulus untuk merangsang pembelajar dalam berperilaku. Pendidik yang masih menggunakan kerangka behavioristik biasanya merencanakan kurikulum dengan menyusun isi pengetahuan menjadi bagian-bagian kecil yang ditandai dengan suatu keterampilan tertentu. Kemudian, bagian-bagian tersebut disusun secara hirarki, dari yang sederhana sampai yang kompleks.
Teori ini tidak mampu menjelaskan penyimpangan-penyimpangan yang terjadi dalam hubungan stimulus dan respon. Pandangan behavioristik juga kurang dapat menjelaskan adanya variasi tingkat emosi pembelajar, walaupun mereka memiliki pengalaman penguatan yang sama. Mereka tidak memperhatikan adanya pengaruh pikiran atau perasaan yang mempertemukan unsur-unsur yang diamati tersebut. Teori behavioristik juga cenderung mengarahkan pembelajar untuk berfikir linier, konvergen, tidak kreatif dan tidak produktif.
Pandangan teori ini bahwa belajar merupakan proses pembentukan atau shaping, yaitu membawa pembelajar menuju atau mencapai target tertentu, sehingga menjadikan peserta didik tidak bebas berkreasi dan berimajinasi. Padahal banyak faktor yang mempengaruhi proses belajar, proses belajar tidak sekedar pembentukan atau shaping. Teori behavioristik dengan model hubungan stimulus responnya, mendudukkan orang yang belajar sebagai individu yang pasif. Respon atau perilaku tertentu dengan menggunakan metode drill atau pembiasaan semata. Munculnya perilaku akan semakin kuat bila diberikan reinforcement dan akan menghilang bila dikenai hukuman.
Pembelajaran yang dirancang dan berpijak pada teori behavioristik memandang bahwa pengetahuan adalah obyektif, pasti, tetap, tidak berubah. Pengetahuan telah terstruktur dengan rapi, sehingga belajar adalah perolehan pengetahuan, sedangkan mengajar adalah memindahkan pengetahuan (transfer of knowledge) ke orang yang belajar atau pembelajar. Fungsi mind atau pikiran adalah untuk menjiplak struktur pengetahuan yag sudah ada melalui proses berpikir yang dapat dianalisis dan dipilah, sehingga makna yang dihasilkan dari proses berpikir seperti ini ditentukan oleh karakteristik struktur pengetahuan tersebut. Pembelajar diharapkan akan memiliki pemahaman yang sama terhadap pengetahuan yang diajarkan. Artinya, apa yang dipahami oleh pengajar atau guru itulah yang harus dipahami oleh murid.
Implikasi dari teori behavioristik dalam proses pembelajaran dirasakan kurang memberikan ruang gerak yang bebas bagi pembelajar untuk berkreasi, bereksperimentasi dan mengembangkan kemampuannya sendiri. Karena sistem pembelajaran tersebut bersifat otomatis-mekanis dalam menghubungkan stimulus dan respon sehingga terkesan seperti kinerja mesin atau robot. Akibatnya pembelajar kurang mampu untuk berkembang sesuai dengan potensi yang ada pada diri mereka.
Karena teori behavioristik memandang bahwa pengetahuan telah terstruktur rapi dan teratur, maka pembelajar atau orang yang belajar harus dihadapkan pada aturan-aturan yang jelas dan ditetapkan terlebih dulu secara ketat. Pembiasaan dan disiplin menjadi sangat esensial dalam belajar, sehingga pembelajaran lebih banyak dikaitkan dengan penegakan disiplin. Kegagalan atau ketidakmampuan dalam penambahan pengetahuan dikategorikan sebagai kesalahan yang perlu dihukum dan keberhasilan belajar atau kemampuan dikategorikan sebagai bentuk perilaku yang pantas diberi hadiah. Demikian juga, ketaatan pada aturan dipandang sebagai penentu keberhasilan belajar. Pembelajar atau peserta didik adalah objek yang berperilaku sesuai dengan aturan, sehingga kontrol belajar harus dipegang oleh sistem yang berada di luar diri pembelajar.
Tujuan pembelajaran menurut teori behavioristik ditekankan pada penambahan pengetahuan, sedangkan belajar sebagi aktivitas “mimetic”, yang menuntut pembelajar untuk mengungkapkan kembali pengetahuan yang sudah dipelajari dalam bentuk laporan, kuis, atau tes. Penyajian isi atau materi pelajaran menekankan pada ketrampian yang terisolasi atau akumulasi fakta mengikuti urutan dari bagian ke keseluruhan. Pembelajaran mengikuti urutan kurikulum secara ketat, sehingga aktivitas belajar lebih banyak didasarkan pada buku teks/buku wajib dengan penekanan pada ketrampilan mengungkapkan kembali isi buku teks/buku wajib tersebut. Pembelajaran dan evaluasi menekankan pada hasil belajar.
Sekilas memang banyak kelemahan dalam aplikasi teori belajar behavioristik, tetapi pemberian reinforcement baik berupa reward maupun punishment dalam kondisi tertentu mampu mengatasi masalah pembelajaran. Dalam proses pembelajaran yang dilangsungkan perlu adanya kedisiplinan, perlu adanya dorongan untuk memotivasi peserta didik dan menumbuhkan antusiasme belajar mereka. Dalam hal ini aplikasi teori belajar behavioristik memiliki andil yang besar.

2.      Teori Kognitif
Tidak seperti halnya belajar menurut perspektif behavioris dimana perilaku manusia tunduk pada peneguhan dan hukuman, pada perspektif kognitif ternyata ditemui tiap individu justru merencakan respons perilakunya, menggunakan berbagai cara yang bisa membantu dia mengingat serta mengelola pengetahuan secara unik dan lebih berarti. Teori belajar yang berasal dari aliran psikologi kognitif ini menelaah bagaimana orang berpikir, mempelajari konsep dan menyelesaikan masalah. Hal yang menjadi pembahasan sehubungan dengan teori belajar ini adalah tentang jenis pengetahuan dan memori.
Menurut pendekatan kognitif yang mutakhir, elemen terpenting dalam proses belajar adalah pengetahuan yang dimiliki oleh tiap individu kepada situasi belajar. Dengan kata lain apa yang telah kita diketahui akan sangat menentukan apa yang akan menjadi perhatian, dipersepsi, dipelajari, diingat ataupun dilupakan. Pengetahuan bukan hanya hasil dari proses belajar sebelumnya, tapi juga akan membimbing proses belajar berikutnya.
3.      Teori Disiplin Mental
Teori belajar disiplin mental menjadi dasar untuk disusunnya strategi dan model pembelajaran untuk diterapkan bagi siswa. Model pembelajaran yang dimaksud adalah suatu perencanaan atau suatu pola yang menggunakan pembelajaran di kelas atau pembelajaran dalam tutorial serta untuk menentukan perangkat-perangkat pembelajaran. Teori disiplin mental relevan apabila diterapkan dalam sistem pembelajaran, karena kriteria belajar bagi siswa adalah adanya perubahan perilaku pada diri individu, perubahan perilaku yang terjadi hasil dari pengalaman, dan perubahan tersebut relatif menetap.
Berdasarkan kriteria tersebut tentu saja teori belajar disiplin mental dapat diterapkan sebagai media untuk menambah pengetahuan untuk perubahan perilaku individu secara menetap dan berdasarkan hasil pengalaman dalam proses belajar mengajar. Dalam ranah pembelajaran IPS, teori disiplin mental menjadi dasar untuk memahami materi dalam pembelajaran, yaitu dengan menggunakan strategi guru memberikan buku-buku yang relevan kepada siswa untuk dipelajari secara terus-menerus. Pembelajaran dengan teori ini, mengakselerasi siswa untuk selalu meningkatkan kemampuannya dan ketrampilannya dengan senantiasa belajar setiap hari, mempelajari materi-materi setiap hari, sehingga semua kompetensi yang distandarkan dapat dikuasai.
4.      Teori Kultural
Aplikasi belajar kultural berdasarkan jenis model pembelajaran yang dipakai, harus memenuhi prinsip-prinsip metodis konstruktivisme, yang melibatkan perananan aspek lingkungan sosial maupun aspek lingkungan alam. Lebih jauh lagi, dalam proses pembelajaran yang relevan dengan aplikasi teori belajar kultural, harus diciptakan suasana belajar yang memungkinkan terjadinya interaksi sosial.  Teori belajar konstruktivisme, teori belajar ko-konstruktivisme, teori belajar sosial, dan teori belajar sosio kutural atau teori belajar revolusi-sosio kultural, merupakan jiwa dari pengembangan pembelajaran aktif, kreatif dan menyenangkan.
Teori belajar kultural menghendaki agar dalam proses pembelajaran individu dilibatkan secara aktif dalam suatu setting sosial dan interaksi sosial. Dengan demikian, proses pembelajaran harus memberikan tempat bagi nilai-nilai budaya. Pendidikan merupakan salah satu saluran untuk mewariskan budaya pada generasi muda. Penyelenggaraan pendidikan harus berjalan dinamis mengikuti perkembangan dan kemajuan jaman, tetapi tetap meneguhkan arti penting kebudayaan sebagai karakteristik bangsa.
Pembelajaran IPS tentu tidak bisa meninggalkan aspek-aspek kultur masyarakat. Lingkungan dan budaya peserta didik memiliki peranan penting dalam membangun persepsi dan perspektif siswa terhadap pengetahuan dan pengalaman yang ia dapatkan. Posisi lingkungan dan kultur sebagai pembentuk background individu merupakan modal (pemahaman awal) sekaligus merupakan produk (keutuhan pemahaman akan hal tertentu yang diasimilasikan dengan skemata dan informasi baru yang diperoleh melalui pembelajaran).
5.      Teori Sibernetik
Teori belajar sibernetik merupakan teori belajar yang relatif baru dibandingkan teori-teori belajar lainnya. Teori ini berkembang sejalan dengan perkembangan teknologi dan ilmu informasi. Menurut teori sibernetik, belajar adalah pemrosesan informasi. Teori ini lebih mementingkan sistem informasi dari pesan atau materi yang dipelajari. Bagaimana proses belajar akan berlangsung sangat ditentukan oleh sistem informasi dari pesan tersebut.
Dalam pembelajaran IPS peserta didik perlu diperkenalkan dengan sistem pengolahan informasi agar proses pembelajaran yang dijalankan senantiasa mengikuti perkembangan teknologi. Hal-hal yang relevan untuk saat ini difungsikan secara optimal untuk pengembangan yang bersifat positif. Peserta didik dibekali dengan kemampuan memanfaatkan teknologi dan pengolahan informasi, tetapi juga dibekali nilai-nilai yang mampu meng-encounter imbas negatif dari penggunaan sistem teknologi informasi.

C.      Aplikasi Teori Belajar Humanistik dalam Pembelajaran IPS.
Pada bagian atas, telah disebutkan bahwa sebaiknya teori belajar humanistik dijadikan sebagai landasan dalam setiap pembelajaran IPS di kelas. Teori humanistik sebagai landasan maksudnya, dalam setiap proses pembelajaran yang diselenggarakan, guru harus menerapkan teori ini dan menjadikannya sebagai dasar berpijak dalam penyusunan rencana pembelajaran, proses maupun praktek pembelajaran, sampai pada tahap evaluasi pembelajaran.
Hal ini didasarkan pada adanya prinsip-prinsip yang patut diterapkan dalam proses pembelajaran. Pelaksanaan pembelajaran yang sesuai dengan prisip-prinsip ini akan memberikan pengaruh signifikan terhadap keberhasilan pencapaian tujuan pembelajaran. Keberhasilan pencapaian tujuan pembelajaran tidak sebatas pada penguasaan kognisi peserta didik, tapi juga meliputi afeksi dan psikomotor. Prinsip- prinsip belajar humanistik:
1.      Manusia mempunyai belajar alami.
2.      Belajar signifikan terjadi apabila materi plajaran dirasakan murid mempuyai relevansi dengan maksud tertentu.
3.      Belajar yang menyangkut perubahan di dalam persepsi mengenai dirinya.
4.      Tugas belajar yang mengancam diri ialah lebih mudah dirasarkan bila ancaman itu kecil.
5.      Bila bancaman itu rendah terdapat pangalaman siswa dalam memperoleh cara.
6.      Belajar yang bermakna  diperolaeh jika siswa melakukannya.
7.      Belajar lancar jika siswa dilibatkan dalam proses belajar.
8.      Belajar yang melibatkan siswa seutuhnya dapat memberi hasil yang mendalam.
Aplikasi teori humanistik lebih menunjuk pada ruh atau spirit selama proses pembelajaran yang mewarnai metode-metode yang diterapkan. Peran guru dalam pembelajaran humanistik adalah menjadi fasilitator bagi para siswa sedangkan guru memberikan motivasi, kesadaran mengenai makna belajar dalam kehidupan siswa. Guru memfasilitasi pengalaman belajar kepada siswa dan mendampingi siswa untuk memperoleh tujuan pembelajaran.
Siswa berperan sebagai pelaku utama (student center) yang memaknai proses pengalaman belajarnya sendiri. Diharapkan siswa memahami potensi diri , mengembangkan potensi dirinya secara positif dan meminimalkan potensi diri yang bersifat negatif. Tujuan pembelajaran lebih kepada proses belajarnya daripada hasil belajar. Adapun proses yang umumnya dilalui adalah :
1.         Merumuskan tujuan belajar yang jelas.
2.         Mengusahakan partisipasi aktif siswa melalui kontrak belajar yang bersifat jelas , jujur dan positif.
3.         Mendorong siswa untuk mengembangkan kesanggupan siswa untuk belajar atas inisiatif sendiri.
4.         Mendorong siswa untuk peka berpikir kritis, memaknai proses pembelajaran secara mandiri.
5.         Siswa di dorong untuk bebas mengemukakan pendapat, memilih pilihannya sendiri, melakukkan apa yang diinginkan dan menanggung resiko dariperilaku yang ditunjukkan.
6.         Guru menerima siswa apa adanya, berusaha memahami jalan pikiran siswa, tidak menilai secara normatif tetapi mendorong siswa untuk bertanggungjawab atas segala resiko perbuatan atau proses belajarnya.
7.         Memberikan kesempatan murid untuk maju sesuai dengan kecepatannya.
8.         Evaluasi diberikan secara individual berdasarkan perolehan prestasi siswa
Pembelajaran berdasarkan teori humanistik ini cocok untuk diterapkan pada materi-materi pembelajaran yang bersifat pembentukan kepribadian, hati nurani, perubahan sikap, dan analisis terhadap fenomena sosial. Indikator dari keberhasilan aplikasi ini adalah siswa merasa senang bergairah, berinisiatif dalam belajar dan terjaadi perubahan pola pikir, perilaku dan sikap atas kemauan sendiri. Siswa diharapkan menjadi manusia yang bebas, berani, tidak terikat oleh pendapat orang lain dan mengatur pribadinya sendiri secara bertanggungjawab tanpa mengurangi hak-hak orang lain atau melanggar aturan , norma , disiplin atau etika yang berlaku. Berikut adalah ciri-ciri guru yang baik dan kurang baik menurut Humanistik:
1.         Guru yang baik menurut teori ini adalah: guru yang memiliki rasa humor, adil, menarik, lebih demokratis, mampu berhubungan dengan siswa dengan mudah dan wajar. Ruang kelas lebih terbuka dan mampu menyesuaikan  pada perubahan.
2.         Sedangkan guru  yang tidak efektif adalah guru yang memiliki rasa humor yang rendah, mudah menjadi tidak sabar, suka melukai perasaan siswa dengan komentar yang menyakitkan, bertindak agak otoriter, dan kurang peka terhadap perubahan yang ada.

DAFTAR BACAAN:
1.      Alfonsus Sam. Resume Materi Learning Theory. Diunduh dari   http://aphonkssam.blogspot.com/2012/06/resume-materi-learning-2.html, diakses pada Rabu, 31 Oktober 2012.
3.      Dire la vérité. Teori Belajar dan Penerapannya dalam IPS. Diunduh dari  http://dire-laverite.blogspot.com/2012/03/teori-teori-belajar-dan-penerapannya.html, diakses pada 30 Desember 2012.
4.      Halim Sani. Teori-Teori Sosial dari Ilmu-Sosial Sekuleristik Menuju Ilmu Sosial Integralistik. Diunduh dari http://halimsani.wordpress.com/2007/09/06/teori-teori-sosial-dari-ilmu-sosial-sekuleristik-menuju-ilmu-sosial-intergralistik/, diakses pada 29 Desember 2012.
5.      M. Muchad. Teori Ilmu Sosial dan Hakikat Tujuan Ilmu Sosial. Diunduh dari http://muchad.com/teori-ilmu-sosial-hakikat-tujuan-ilmu-sosial-dasar.html, diakses pada 29 Desember 2012.
6.      Supri Hartanto. Pembedaan IPA dan IPS dalam Perspektif Ontologi dan Epistemologi. Diunduh dari http://mkalahmu.wordpress.com/2010/11/03/perbedaan-ipa-dan-ips-epistemologi.html, diakses pada 29 Desember 2012.










Senin, 10 Desember 2012

ABSTRAK

Talk About ABSTRACK
Saat hasil penelitian selesai disusun, abstrak merupakan bagian yang terakhir disusun. Abstrak yang baik harus mampu menggambarkan keseluruhan isi/ substansi mengenai penelitian, sehingga meskipun abstrak disajikan secara padat, tetapi ia harus memberikan ulasan yang lengkap, yang mampu memberikan pemahaman pada pembacanya. Dari segi tata tulis, abstrak ditulis dengan jarak satu spasi.Abstrak terdiri dari 3 paragraf antara lain:
  1. pada paragraf pertama mendeskripsikan tentang tujuan dan alasan yang melatarbelakangi penelitian dilakukan; 
  2. paragraf kedua mengenai metodologi penelitian seperti --> jenis dan pendekatan yang digunakan dalam penelitian, tentang teknik penentuan subjek penelitian dan berapa jumlahnya; tentang teknik pengumpulan data yang digunakan; teknik keabsahan data; serta analisis data;
  3. Paragraf ketiga tentang hasil penelitian yang telah dilakukan, dengan kata lain jawaban terhadap rumusan masalah yang disajikan secara ringkas tapi jelas.
Woke, berikut ini adalah contoh abstrak skripsi ane dulu:


PERANAN PERUM PERHUTANI
KESATUAN PEMANGKUAN HUTAN (KPH) BLORA
DALAM MENGANTISIPASI TERJADINYA ILLEGAL LOGGING
DI KAWASAN HUTAN KPH BLORA

Oleh: Zuky Iriani
024124026
ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan untuk mengungkapkan faktor-faktor penyebab belum optimalnya peranan Perum Perhutani KPH Blora dalam mengantisipasi terjadinya illegal logging di kawasan hutan KPH Blora, dan untuk mengetahui upaya-upaya yang dilakukan oleh Perum Perhutani KPH Blora dalam mengatasi faktor-faktor penyebab belum optimalnya peranan Perum Perhutani KPH Blora dalam mengantisipasi terjadinya illegal logging di kawasan hutan KPH Blora. Alasan yang melatarbelakangi dilakukannya penelitian ini, adalah belum optimalnya peranan Perum Perhutani KPH Blora dalam mengantisipasi terjadinya illegal logging di kawasan hutan KPH Blora.
Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif karena bertujuan menggambarkan secara sistematik dan akurat, fakta dan karakteristik mengenai peranan Perum Perhutani KPH Blora dalam mengantisipasi terjadinya illegal logging di kawasan hutan KPH Blora. Pendekatan yang digunakan adalah pendekatan kualitatif. Penentuan subjek penelitian secara purposive dan snow ball. Teknik purposive, yaitu dengan menentukan Administratur dan Wakil Administratur Perum Perhutani KPH Blora sebagai key informan. Selanjutnya berdasarkan keterangan dari key informan, dicari variasi informasi baru pada subjek penelitian dengan menggunakan teknik snow ball, sehingga diperoleh 28 informan. Data diperoleh dengan menggunakan metode wawancara, dokumentasi, dan observasi. Pemeriksaan keabsahan data dilakukan dengan teknik triangulasi, yaitu pemeriksaan dengan pengecekan dan membandingkan sumber data yang diperoleh melalui tiga teknik pengumpulan data tersebut. Analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan analisis domain, sedangkan teknik analisis datanya bersifat induktif. Adapun langkah-langkahnya antara lain; reduksi data, unitisasi dan kategorisasi, display data, serta kesimpulan dan verifikasi data.
Hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa, terdapat dua faktor utama penyebab belum optimalnya peranan Perum Perhutani KPH Blora dalam mengantisipasi terjadinya illegal logging di kawasan hutan KPH Blora, yaitu faktor intern dan faktor ekstern. Faktor intern antara lain: (a) tidak adanya kewenangan melakukan penyidikan sebagai tindakan represif dalam pengamanan dan perlindungan hutan; (b) masalah Sumber Daya Manusia (SDM) dalam pengamanan hutan; (c) minimnya fasilitas pengamanan dan perlindungan hutan yang dimiliki oleh Perum Perhutani KPH Blora; dan (d) letak kawasan hutan KPH Blorayang berdampingan dengan pemukiman penduduk. Faktor ekstern antara lain: (a) masalah kesejahteraan masyarakat sekitar kawasan hutan KPH Blora; (b) modus operandi kejahatan illegal logging di kawasan hutan KPH Blora yang semakin berkembang; (c) adanya peraturan hukum yang menjadi celah bagi terjadinya kejahatan illegal logging; (d) merebaknya perusahaan mebel di Kabupaten Blora dan sekitarnya, serta; (e) efek penarikan senjata aparat penegak hukum, termasuk penarikan senjata di kalangan polisi hutan di lingkungan KPH. Upaya-upaya yang dilakukan Perum Perhutani KPH Blora dalam mengatasi faktor-faktor penyebab belum optimalnya peranan Perum Perhutani KPH Blora dalam mengantisipasi terjadinya illegal logging di kawasan hutan KPH Blora antara lain: (a) melaksanakan pengamanan Pam Swakarsa di kawasan hutan KPH Blora secara optimal; (b) memberikan motivasi kerja bagi petugas pengamanan dan perlindungan hutan; (c) melakukan pengadaan fasilitas keamanan dan perlindungan hutan yang dilakukan secara swadaya; (d) melakukan pendekatan pada masyarakat sekitar kawasan hutan KPH Blora, baik pendekatan formal maupun informal; (e) melakukan tindakan preemtif yang mempunyai fungsi antisipatif, serta; (f) membentuk Tim Illegal Logging sesuai dengan SK Bupati Blora No. 527/1381/2006 tentang Pembentukan Tim Koordinasi dan Satuan Tugas (SATGAS) Pemberantasan Penebangan Secara Ilegal di Kawasan Hutan dan Peredarannya di Wilayah Kabupaten Blora.

Sabtu, 08 Desember 2012

NUNGGU SAMBIL CRITA tentang KLINIK SAINS


Allrite, q pikir ini sudah sangatSANGAT keterlaluan, aku sudah menunggu di tempat ini sekitar 45 menit setelah aku sms seorang petugas TU di kampus. 45 menit itu bukan waktu yang sebentar untuk menunggu, tanpa teman, tanpa sambungan internet, parahnya lagi, hp bener-bener lowbatt..
Sekitar 2 jam yang lalu, di parkiran sekolah, sebelum q kampus, q bilang pada bibik fajar: “wah, habis ini ke kampus, ngurus berkas ini-itu...”, bibik juga mengiyakan: “ho’o yo cen marai males”, dengan sok bijak q jawab sekenanya: “yah, pie meneh, namanya perjOangan, memang harus begitu to NyaH..”, haha, dia jadi agak terkagum-kagum dengan jawaban q yang seperti menenangkan (padahal untuk menenangkan diri sendiri)..
Haha, berbanding terbalik dengang perasaaan q sekarang, ini benarBENAR bikin bete, males, cape, eneg... Lain kali harus q jawab “SEPAKAT”!
YaampuuuuuuN, ini GA baik! Dah jam 13.55 dan Pak Mardi belom nonggol. Sepertinya kata-kata SUPER_DUPER_Menyebalkan sangat nice untuk mendeskripsikan situasi ini. Q memang seharusnya bisa langsung pergi mendaftar untuk mendapatkan ID wi fi kampus, tapi kali ini q sedang ga pengen kreatip begitu. Coz, untuk mendaftar harus ke Gedung sebelah, itu pun di lantai 4, dan harus dengan anak tangga karena gada lift. Bukanya q manja or sok, tapi q yakin itu bakal buang waktu. Bisa saja (dan ini sangat mungkin terjadi), saat aku pergi kesana, pak Mardi malah datang...Hahah! Gabanget, q dah jauhJaOH dari tempat kerja – kampus, yang butuh waktu sekitar 1,5 jam perjalanan, n semua ga seperti yang q harapkan...Jangan ya Allah, kasiani hamba mu yang cape’ ini...
Sebenarnya q niatan pengen menceritakan kegiatan pameran Klinik Sains 3 hari yang lalu, tapi kondisi menunggu gajelas, lama, nyebelin kaya gini, malah bikin niatan jadi ilang... OMG! Where are u mister.. ane masih banyak urusan. Tapi balasan sms JUST: “Saya makan siang, ditunggu”. Sepertinya beliau sedang benarBENAR “makan” “siang”, kita tahu betapa “siang” itu lebar_besar, jadi BUTUH waktu lama, untuk memakan siang, pa lagi kalau SAMPAI habis!
BENARbenar MENYEBALKAN! Q sudah mulai kehilangan kesabaran..tapi q juga gabisa langsung pergi tanpa hasil, coz berkas ITU harus dibawa besok pagi jam 8, saat rapat kecil mengenai kelanjutan SK Tugas Belajar...
Q bahkan tidak punya ide lagi untuk mengisi waktu menunggu MAKAN SIANG beliau, kecuali mengetik di laptop q yang bahkan tidak ada sambungan internetnya. Modem yang sudah q plug benaBENAR gabisa diajak kerjasama. Koneksi: Exellent, tapi it’z exellently UNCONNECt!
Q tulis lagi, nyambung dengan tulisan diatas, kali ini bakal ane postingin, selama modem ane masih kuat battery-nya, secara ane yang telrdor n langganan telat tiap kuliah ini, lupa ga bawa kabel data, hp ketinggalan..benar-benar gawat n MENYEBALKAN. Kali ini q bakal mamerin (hhe tukang pamer) beberapa foto pas pameran KLINIK SAINS di Taman Pintar. Pameran Klinik sains merupakan acara puncak pelaksanaan kompetisi inovasi dan kreasi anak SMK melalui karya ilmiah remaja yang yang diselenggarakan oleh Dinas Pendiikan, Pemuda, dan Olahraga DIY. SEbenaernya ada beberapa foto tapi masih belum  q minta dari hp temen, jani ni cuma foto yang ada di hape q.. Untuk uraian tentang pelaksanaan klinik sains insya Allah ane posting setelah ane dapet fotona dari temen ane...

 Ini NOVIE ama gw. Novie itu anak kelas XI SMK N 7 Yogyakarta, yang juga sebagai peserta klinik sains; ini artinya dia adek kelas q... q lulus dari SKAVENTA tahun 2002. Q jurusan Usaha Jasa Pariwisata (UJP), Novie ini jurusan Akuntansi.
 Ni pas siap2 mo bongkar boat/ stand, hari trakir pameran, pada ngumpul di boat-nya Alek ma Ucup..
Ha, nyang pake baju batik ini bikin teh dari daon tapak dara, promosinya meyakinkan... dia hobi banget maksa2 tiap orang yang lewat di depan boat-nya untuk nyobain teh yang rasanya superDUPER pahiiiitttttttt....(q termasuk korbannya)...
 Boat-nya Wulan ma Intan memang paling PLAIN, hari pertama sore hari boat hampir tutup display yang di praktisi pada copot sendiri2...
 Ucup ma Asep
Pas malem hari, persiapan ndekor boat..

Sabtu, 01 Desember 2012

KULIAHIPUN PAK PROF.BUCHORY

Hi, y'all..ini sedang kuliahnya Pak prof Buchari. Sebenarnya cape n ngantuk bukan maiN, coz tadi malam bikin dodol dari ekstrak kulit manggis ma murid q si Asep Setyawan di rumah bu Sri Purwanti Rudjito. Tuh dodol hari ini dipake buat demo, emmm dijadikan sample, ma display untuk pameran Klinik Sains SMK yang diselenggarakan oleh Disdikpora DIY..
Ternyata ngaduk-aduk dodol gajauh beda ma mandi sauna, coz bikin kringeten n tangan pegel-pegel (cuma itu bedanya..). Padahal q gasampe tuntas ngebikin dodolnya..haha, untung si Asep aktif di OSIS ma tonti, jadi urusan dodol pasti KKM-lah...
Kasian anak-anak KIR 3 hari ini kejar tayang, sampe pas pemeran mata mereka merah..yapp tapi itulah perJOangan..btw, pembimbingnya juga gakalah kasian loh, bu purwanti yang setaun lagi pensiun sampe harus pijet karena kecapekan...pak Eka, harus wira-wiri juga, aku.. (haha, ngarep dikasiani...) ya, yang jelas semua kerja, semua berusaha, gada yang nganggur.
Okay, pembahasan kuliah kali ini masih seputar penelitian kuantitatif (q gasuka..coz, q lebih interest @ penelitian dengan pendekatan kualitatif), but i will give my full attention n write down thiz learning prosses.. (haha, moga-moga ane konsisten). Berikut adalah pangandikanipun pak prof kalian pangandikanipun rencang-rencang:
  1. Kebenaran ilmiah itu tidak mutlak tapi fakultatif dan tentatif. Kebenarannya bisa bersifat sementara sampai ada yang lebih benar lagi, begitzu...
  2. Rekomendasi para ahli untuk menghindari pertanyaan penelitian yang jawabannya ada/tidak ada; ya/tidak (kayanya ngulang nYang kemaren).
  3. Rumusan masalah dirumuskan dengan jelas dan padat, hendaknya dapat diuji.
  4. Mengenai hipotesis nihil dan hipotesis kerja. Hipotesis nihil adalah hipotesis yang meniadaklan pengaruh/ hubungan/ perbedaan tergantung pada rumusan masalahnya. Jadi jika dalam kajian teori ternyata tidak mengarahkan peneliti pada hipotesis, artinya hipotesis nihil.
  5. Yang lazim dirumuskan adalah hipotesis kerja, dimana teorinya sesuai (terdapat hubungan/ terdapat pengaruh, ect).
  6. Penelitian kuantitatif bertujuan untuk menguji hipotesis nihilnya. Pada bab 2 (kajian teori) yang dirumuskan adalah hipotesis kerja, namun pada saat penyusunan bab 4, mengubah dari hipotesis kerja ke hipotesisi nihil.
  7. Variable penelitian adalah segala sesuatu yang menjadi objek pengamatan dalam penelitian; gejala yang akan diteliti.
  8. Penggolongannya ada 3. al: variabel bebas (dengan lambang "x"), variabel terikat (dengan lambang "y"), dan variabel antara (dengan lambang "x n" atau "y n").
  9. TANPA Variabel Antara, Misal dalam judul: Hubungan antara Dukungan Orang Tua (x1), bla-bla (x2), eeemm? (x3), prestasi belajar siswa (y).
  10. Variabel antara TIDAK menjadi keharusan dalam penelitian kuantitatif.
Ane posting aja right now... dah cape